hehehe ini cerpen pertama gue, masih berantakan banget. tolong kasih comment yaaaa
--------------------------------
Seharusnya aku pun tak berharap
Miliki dirimu seutuhnya
Namun ku pendam rasa
Ku hanya ingin kau bahagia
Jalani yang kau pilih
Jangan risaukan aku
…
(percayalah-ecoutez)
***
Pernahkah kamu mencintai seseorang hingga kamu lupa untuk mencintai dirimu? Semua yang dilakukannya selalu benar di matamu. Semuanya. Hingga hidupmu berubah, semuanya tentang dia. Bukan kamu dan dia, tapi hanya dia. Semuanya kamu lakukan untuk dia, bahkan sesuatu yang melukai hatimu sendiri. Kamu hanya ingin melihat dia tersenyum, senyumnya yang selalu menjadi penyemangatmu.
Apa? Terlalu sinetron katamu? Terlalu impossible?
Percayalah, aku dan mungkin beberapa orang di luar sana menjadi bagian dari komunitas itu.
Apa? Aku sehat?
Ya bisa dipastikan aku sehat secara lahir, aku tidak gila, tapi memang begini adanya. Tak perlu heran, tertawalah, memang batinku gila, gila dibuat olehnya.
***
Sepi. Begitulah keadaan sekolah saat ini. Jelas saja, semua muslim di sekolahku berbondong-bondong ke masjid untuk solat. Sedangkan aku? Hanya mondar-mandir keluar masuk kelas. Tamu bulanan ini sedang datang tanpa diundang. Aku memutuskan untuk mendengarkan lagu-lagu dari aplikasi walkman di handphone ku.
Saat kau tak ada atau kau tak disini
Terpenjara sepi ku nikmati sendiri
Tak terhitung waktu tuk melupakanmu
Aku tak pernah bisa
Aku tak pernah bisa
…
(saat kau tak disini-ajeng)
Tiba-tiba lagu itu berhenti, aku tersadar dari lamunanku. Sekilas aku melirik ke samping kananku. Hah cowok ini lagi. “ck apasih? Iseng banget lo”
“yaelah gini aja sewot lo. Kenapa sih? Biasanya juga ga segininya. Oooooh dia pentesan. Biasa aja kali ngeliatinnya, haha”
Haaaa? Dia? Apa maksudnya? “apasih? Dia siapa? Maksud lo?”
“woelah slow meeen siapalagi tuhtuh”
Aku mengikuti arah yang dia maksud. Bukan, bukan lelaki itu yang sedang ada dalam lamunanku. “sotoy sih, bukan dia tauuuuuuuuu”
“ah sepik banget siapa lagi sih kalo bukan cowo yang nahan tangan lo waktu mau kepleset di lapangan basket itu?” katanya sambil menjulingkan mata seolah ini adalah sebuah lelucon.
“bukan diaaaaaaaa ya ampun lo ngelantur banget sih”
“terus siapa? Sang cinta belum kelar?”
“ah random banget sih omongan lo. Udah ah gue masuk kelas.”
Aku masuk ke dalam kelas dan duduk di tempat dudukku. Diam-diam aku memikirkan perkataan temanku tadi. Sang cinta belum kelar? Ya memang belum kelar dan mungkin gak akan menemukan kata kelar di hatiku. Tapi di hatinya? Mungkin cinta ini udah kelar dari dulu. Jelas saja, setelah perpisahan itu dia hanya menganggapku sahabat. Seperti itulah, hanya sekedar sahabat. Mengenaskan bukan?
***
Menghilanglah dari kehidupanku
Enyahlah dari hati yang tlah hacur
Kehadiran sosokmu kian menyiksaku
Biarkan disini ku menyendiri
Terlintas keinginanku dapat
Hilang ingatan agar semua terlupakan
Dan ku berlari sekencang-kencangnya
Tuk melupakanmu yang tlah berpaling
…
(ingin hilang ingatan-rocket rockers)
Dia mencintai gadis lain. Yaaa bukan aku tentunya. Jelas siapa diriku dibanding gadis itu? Aku tidak cantik, aku tidak menarik. Apa yang dapat dibanggakan dari seorang gadis biasa sepertiku? Bandingkan dengan gadis pilihannya. Gadis yang memiliki segalanya, populer, cantik, dan juga baik hati tentunya. Sedangkan aku? Aku hanya gadis biasa. Mungkin tidak banyak yang mengenalku. Mungkin mereka mengenalku dengan embel-embel ‘oh temennya si ini ya’ atau ‘oh yang suka bareng si itu ya’. Bahkan aku tidak ada seperempatnya dari gadisnya. Seandainya sajaa…. Ah baiklah aku tidak mau berandai-andai lagi. sudah cukup aku sakit hati. Harapan-harapan kosong yang diberinya. Ah bukan, pasti dia tidak memberiku harapan sebenarnya. Mungkin aku yang terlalu berharap lebih dari kata-kata indahnya. Tragisnya….
***
Aku mendekap satu-satu barang pemberiannya. Boneka ini yang dia berikan di hari ulang tahunku. Waktu itu, malam-malam dia datang ke rumahku membawa sebuah boneka dan sebuah coklat. “gue kabur nih ngumpet-ngumpet gue kesini. Mana boleh gue pergi malem-malem padahal besok masih UTS. Cuma pengen ngucapin secara langsung, sama ngasih ini aja. Sorry gue gabisa kasih apa-apa” aaaaah mengingatnya saja bisa membuatku terbang. Semuanya, aku masih mengingat jelas semuanya. Tanpa terkecuali. Sekecil apapun itu. Bahkan mungkin sesuatu yang dia saja sudah lupa. Kamu tau? Coklat itu pun aku simpan dan tidak ku makan sampai beberapa bulan. Haha aku tidak gila, akuhanya tidak ingin merusak pemberiannya, sekecil apapun itu. Semakin erat ku dekap boneka itu. Berharap rasa rindu yang menyesakkan ini dapat tersalur, dan tersampaikan padanya.
“gue gak mau bergantung sama lo. Gue gak mau nyiksa diri gue lagi. gue gak mau galau gara-gara inget lo lagi. tolong bantu gue buat menetralkan perasaan ini. Dua tahun, gak sebentar buat gue. Semuanya masih sama. Masih tentang lo”
Aku terus berbicara sendiri. Seolah dia akan mendengar semuanya. Aku tak ingin terus menerus seperti ini. Dua tahun sudah cukup menyesakkan untukku. Sudah tak terhitung air mata yang keluar. Ya Tuhan tolong kendalikan perasaanku. Ingin rasanya ku membuang semua perasaan ini, seandainya bisa. Rasa ini terlalu menyiksaku. Terlalu menyesakkan.
Dia,
Satu-satunya laki-laki yang membuat diriku lemah. Lelaki biasa untuk orang ‘normal’. Namun di mataku, dia selalu berbeda, selalu istimewa. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menganggapnya seolah tak ada cela. Padahal aku tahu, dia juga hanya manusia biasa yang memiliki kekurangan. Aku tidak peduli, yang aku tau dia selalu membuatku merasa istimewa. Dia selalu bisa membuatku merasa menjadi satu-satunya di matanya. Dia yang tak pernah melupakanku hingga saat ini. Walaupun dia sudah bersama yang lain. Menyesakkan bukan?
Drrrrt…drrrtt..
Aku mengambil handphone ku yang tergeletak sejak pulang sekolah tadi. Ada sms. Ku buka dan hah ternyata dia lagi.
From : *****
Hey lagi di rumah gak? Gue ke rumah lo sekarang ya mau cerita nih. Gak bisa ngelak gue udah di depan komplek soalnya hehehe
Selalu begini. Bukannya aku tak ingin bertemu dengannya. Aku hanya tak ingin rasa ini semakin dalam untukku. Tin..tin.. itu suara klakson motornya, tentu aku sangat hafal suaranya. Segera aku keluar untuk menemuinya. Aku lihat dia yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Ku lihat dia sedang memperhatikanku yang masih memakai seragam abu-abu.
“baru pulang sekolah ya? Gue gak ganggu lo kan?” katanya yang tidak lupa disertai senyum manisnya. Senyum yang selalu menjadi penyemangatku.
“haha enggak, udah daritadi sih sebenernya Cuma gue males aja ganti baju” jawabku disertai tawa hambar.
“eh keluar bentar yuk, gak enak cerita disini. Lo gapapa kan?”
“oh ayo aja sih”
Aku naik ke motornya. Lalu meninggalkan rumahku. Yaaa aku berboncengan. Dengan dia. Seperti dulu. Dia membawaku ke tempat kenanganku bersamanya. Sebuah lapangan basket di komplek rumahku. Tempat ini menjadi saksi bisu tentang kami, tentang aku dan dia. Tempat ini tempat ia menyatakan perasaannya kepadaku dulu, tempat kami biasa main basket, tempat kami menghabiskan waktu berdua dulu.
“mau cerita apa?” aku langsung bertanya. Aku hanya tidak ingin terlarut ke dalam kenangan itu terlalu jauh. Aku hanya tidak ingin air mataku jatuh di depannya, aku tidak mau terlihat lemah walau memang nyatanya aku selalu lemah karenanya.
“bokap maksa gue buat ikut pindah ke Surabaya lusa. Gue gak mau. Terlalu berat ninggalin semuanya disini. temen-temen gue di sekolah, basket gue, cewe gue, sahabat-sahabat gue, gue gak mau pisah sama semuanya.”
Baru kali ini aku melihatnya begitu rapuh, begitu hancur, tatapan matanya yang menerawang entah kemana. Ya Tuhan, aku pun belum siap jauh dengannya. Aku masih ingin melihat senyumnya secara nyata, meskipun diam-diam, meskipun hanya dari dalam angkot ketika pulang sekolah.
“gue Cuma pengen lo dengerin gue sekarang. Karna gue tau pasti, ujung-ujungnya juga pasti gue bakal nurut omongan orang tua gue buat kesana. Karna gimanapun juga gue gak mau pisah sama mereka. Gue bingung gimana caranya buat ngadepin ini semua.” Katanya seraya menoleh ke arahku.
Jangan menangis, tolong jangan menangis. Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Walau aku sangat ini menahannya saat ini, seandainya aku bisa. Aku tidak bisa membalas semua perkataannya. Semuanya terlalu berat. Aku masih sibuk menahan air mataku. Aku sibuk menguatkan hatiku.
“haaaaaaaah yaudahlah, gue Cuma mau lo dengerin semua perasaan gue. Thanks yaa, lo emang sahabat terbaik gue hehehe.” Katanya sambil mengacak-ngacak rambutku.
Aku hanya bisa tertawa hambar. Lihatlah, bahkan aku yang sekarang ada di sampingnya. Hanya aku yang mendengarkan kegalauannya. Bukan gadisnya. Oh bukan, bukan aku ingin menyombongkan diriku dan merendahkan gadis itu. Aku hanya menghibur diriku sendiri. Bahwa aku bisa terus di sampingnya, bisa ikut tertawa bersamanya, padahal ia sudah dimiliki orang lain, walaupun dalam hal ini di matanya saat ini aku hanya sahabatnya. Ya, ‘Cuma’ sahabat.
“masih inget peristiwa dua tahun yang lalu gak di tempat ini?” katanya.
Oh ya tentu aku masih mengingatnya, selalu mengingatnya. Semuanya masih terekam dengan jelas di memory otakku. Tapi hanya sentum dan tawa miris yang keluar dari mulutku. “hahaha”
“iya habis kita main basket gajelas disini, kita jadian habis itu kita dengerin lagu gajelas disini. haha dulu banget ya, jaman alay gitu.”
Taraaaaaaaaa… jaman alay. Denger itu, jaman alay, dulu banget haaaaaaaa…
“lo tumben amat hari ini ga bawel deh, kenapa? Cerita sini sama gue.”
Apaaaa? Kamu yang membuat aku segalau ini. Kamu yang membisukan mulutku hari ini. Sadarlaaaaah, kamu selalu bisa membuatku menjadi seperti ini. “hehe gapapa kok. Eh pulang yuk, udah mau magrib nih badan gue lengket banget ini belom mandi hehehe.”
“oh iyadeh, makasih yaa sekali lagi.”
***
Tuhan tolonglah aku
Kembalikan dia ke dalam pelukku
Karna ku tak bisa
Mengganti dirinya
Ku akui sungguh aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa
…
(jujur aku tak sanggup-pasto)
***
Malam ini, lagi-lagi aku menangis. Mendekap bantalku erat. Ternyata rasanya lebih sakit ketika dulu aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bersamanya lagi. jauh lebih sakit dari itu. Seandainya aku bisa, aku akan menahannya, menahannya agar untuk tetap tinggal disini.
Aku mencintainya, aku masih sangat mencintainya, mungkin aku akan selalu mencintainya. Selalu sama, tidak pernah berubah, sejak dulu, sejak aku masih bersamanya, sampai saat ini.
Mengapa semuanya menjadi lebih sulit? Lebih tepatnya ada yang mempersulit jalan cerita ini. Entah aku atau dia, aku pun tidak mengerti. Disinilah titik lemahku, dan dengan mudahnya dia menguasai semuanya. Menguasai hati dan fikiranku saat ini.
Aku masih ingin terus menatap mata indahnya,
Aku masih ingin terus melihatnya bermain basket di lapangan,
Aku masih ingin menonton petandingan basket bersamanya,
Aku masih ingin mendengar derai tawanya, tawanya yang bagaikan sebuah lonceng,
Aku masih ingin tersenyum bersamanya,
***
Saat ini aku berada di bawah pohon pinggir lapangan basket di sekolahku. Bel pulang sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Tapi aku masih ingin disini. Dengan sebuah headset dan handphoneku, ku putar sebagian lagu dari situ.
Bila aku tak berujung denganmu
Biarkan kisah ini ku kenang slamanya
Tuhan tolong buang rasa cintaku
Jika tak Kau ijinkan aku bersamanya
…
(apalah arti cinta-she)
“hey belom pulang lo?” sahabatku yang satu ini memang tau semuanya tentang aku dan si ‘dia’. Haruskah aku bercerita lagi? aku malu aku selalu bercerita tentang orang yang sama.
“belom nih males gue hehehe. Lo sendiri kenapa belom pulang?”
“nih habis dari perpus, lagi galau ya lo? Haha kenapa lagi dia?”
“dia mau pindah dari sini, dia mau menetap di Surabaya sama keluarganya. Bego gak sih gue masih aja nangisin dia? Padahal gue sama dia kan udah selesai dari dua tahun yang lalu kan?” aku seperti berbicara pada diriku sendiri.
“udah cukup hey, mungkin emang sekarang udah waktunya lo buat move on. Gue tau ini gak gampang buat lo, tapi gue yakin lo bisa. Lo kuat, lo hebat, lo gak lemah.” Kalimat ini lagi. move on dan move on, ada benarnya juga kata sahabatku ini.
“gue Cuma takut buat move on. Dua tahun hidup gue masih dipenuhi sama semuanya tentang dia, gue takut kalo gue ngerubah semuanya dan gak nemuin tentang dia lagi. gue takut kalo gue bangun dan gua bakal terjatuh lagi. tapi mungkin emang lo bener, ini waktunya gue ngelupain dia. Makasih yaa buat masukannya. Pulang yuk”
***
jujur aku tak sanggup, aku tak bisa
aku tak mampu dan aku tertatih
semua yang pernah kita lewati
tak mungkin dapat ku dustai
meskipun harus tertatih
…
(tertatih-kerispatih)
Aku mengambil handphone ku dan mengetik sebuah pesan singkat.
To : *****
Dua tahun semuanya masih tentang lo buat gue. Gue masih inget jelas gimana dulu. Gimana lo nembak gue, gimana lo manggil gue dengan panggilan ‘sayang’, gimana saat lo mengakhiri semuanya. Seandainya gue bisa, gue pengen nahan lo buat tetap tinggal disini. tapi nyatanya gue gak bisa, dan gue gak mau ngelakuin itu kan? Dua tahun gua gak pernah bisa ngelupain lo, dua tahun gue selalu galau karena lo, gak pernah berubah. Mungkin lo anggep gue terlalu lemah atau terlalu bodoh. Gue gak peduli, toh memang kayak gini keadaannya. Gue masih nyimpen semua sms-sms lo, semuanya, gak terkecuali. Gue belum bisa move on. Gue masih inget waktu lo ke rumah gue buat minta maaf karna lo udah jadian lagi sama orang lain. Gue masih inget waktu lo ke rumah gue malem-malem pas ulang tahun gue Cuma buat ngasih kado dan ngucapin secara langsung, gue masih inget gimana lo waktu itu lo bilang lo kabur dan bilang ke orang tua lo kalo lo Cuma mau beli pulsa padahal waktu itu status kita bukan pacar lagi. Gue masih inget waktu kita putus. Gue masih inget semuanya. Tiap jam 12 waktu lo ulang tahun gue selalu begadang Cuma buat ngucapin ulangtahun ke lo, tanpa lo tau. Gue masih inget waktu cewe lo marah gara-gara lo terlalu deket sama gue. Ngetik kayak gini aja air mata gue udah dleweran dari tadi, lemah ya gue? Pasti sekarang lo lagi packing buat besok kan? Jangan ke rumah gue lagi buat sekedar minta maaf yaaa hehe PD bgt gue. Intinya makasih buat dua tahun yang indah banget ini. Jangan pernah lupain gue yaa, si cinta jaman alay lo hehehe. Take care yaa selama disana ^_^
ku berjalan terus tanpa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdoa di tengah indahnya dunia
ku berdoa untuk dia yang ku rindukan
memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang ku rindukan
jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan pergi dari aku
----------------tamat---------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar